Ignoratio Elenchi

Di meja kerja, saya menempelkan kartu pos bergambar Adolf Hitler. Tentu dengan nuansa satir. Gambar itu menampilkan wajah diktator yang pernah bercita-cita menjadi seniman ini. Anehnya, tepat di bagian kumisnya yang ikonik, gambar ini memutar 180 derajat. Sehingga mata dan kumisnya terbalik menghadap ke atas.

Adolf Hitler, 1906.

Secara sengaja, saya menggantungkan gambar itu bukan untuk estetika melainkan sebagai pengingat. Bahwa bisa saja saya yang menganggap diri sangat demokratis, punya ciri fasis yang alergi terhadap sesuatu yang berbeda. Lebih parah lagi, jika saya ternyata tidak sadar kalau saya punya kecenderungan itu.

The Courtyard of the Old Residency in Munich, Adolf Hitler, 1914

Fasis dalam konteks ini bukan dalam pengertian politik. Namun, fasis berarti tidak membuka diri pada aktivasi pandangan-pandangan alternatif. Padahal semua “pengertian” diperoleh dengan dibukanya ruang isolasi dari pengetahuan yang telah dianggap mapan.

Kecenderungan itu sering dimanifestasikan dengan kesesatan berpikir (logical fallacy). Salah satunya adalah ignoratio elenchi. Salah satu kesesatan yang diperkenalkan oleh Aristoteles dalam risalahnya berjudul Organon.

Wajah dari fallacy ini adalah argumentasi yang bisa valid atau tidak valid, tetapi secara sengaja tidak menyentuh poin inti dari persoalan.

 

Misalnya, begini.

 

A: “Makan siang yuk, udah lapar”

B: “Yah, sebentar lagi. Belum jam 1”.

 

Jelas, B melakukan ignoratio elenchi. Argumen B valid. Namun, B tidak merespons poin inti dari argumen A soal kondisi lambung yang mulai berorasi.

Mother Mary with the Holy Child Jesus Christ, Adolf Hitler, 1913

Contoh lain.

 

X: “Kayaknya musim seperti ini lebih baik ke pantai. Ke gunung mungkin akan dingin banget”

Y: “Oooo, itu udah lama kita bicarakan. Fokus ke sini persiapan mendaki saja”.

 

Lagi, Y melakukan ignoratio elenchi. Argumen Y bisa jadi valid. Namun, ia tidak menjawab poin utama dari X soal kekhawatiran udara dingin yang bisa menusuk sum-sum tulang belakang. Iya, bagian terakhir ini sedikit berlebihan.

 

Menariknya, ignoratio elenchi ini secara harafiah bermakna ignoring refutation, yaitu menolak atau menyangkal penolakan (baca: pendapat berbeda). Jadi, ia bukan sekadar kesesatan berpikir secara sengaja maupun tidak. Namun, suatu sikap yang menolak sesuatu yang berbeda.

Mungkin banyak alasan untuk kita melakukan penyangkalan itu. Pengalaman, pengetahuan, jabatan, prasangka, dan seterusnya. Dalam konteks komunitas ilmiah, ini sering dikenal dengan epistemic arrogancy. Namun, banyak juga alasan untuk menghindarinya.

 

Saya tidak bisa menyediakan tips dan trik untuk penghindaran dari penyangkalan pendapat ini. Namun, satu yang terus bisa jadi pengingat untuk diri saya bahwa ukuran sikap adalah otentisitas. Kita bisa menggunakan banyak sekali simbol sebagai tampilan depan diri.

 

Namun, sekokoh apapun etalase itu, diri kita yang sebenarnya akan muncul pada saat yang kita tidak sadari. Seperti ungkapan yang saya lupa darimana, “Jika ingin mengetahui siapa seseorang yang sebenarnya. Lihat jika ia sedang berkuasa, marah, atau jatuh cinta”.

 

Mudah-mudahan tidak perlu sampai demikian. Cukup dengan beranggapan semua pendapat layak untuk dipertimbangkan. Terlepas dari bungkus cara penyampaiannya. Terlepas dari siapa yang menyampaikannya.

 

Terlebih penting, pertimbangan itu karena berasal dari sikap yang otentik, yang gandrung akan gagasan. Gagasan bermakna mendalam karena ia berasal dari sesuatu yang alternatif terhadap sesuatu yang dianggap mapan.

 

Pendapat adalah buah pikiran. Dan, buah pikiran yang satu akan menajamkan buah pikiran yang lain. Begitu adanya, senantiasa.

 

 

 

Jakarta Timur,

 

 

msg.