(Bukan) Melempar Dadu

Saya mungkin tipikal orang yang tak pernah letih mengajukan pertanyaan tentang banyak hal. Tanpa perlu perdebatan sengit, saya yakin saya tidak seorang diri.

Mulai dari ketika membuka pintu kulkas lalu muncul pertanyaan kenapa tomat itu buah dan bukan sayuran, membuka media sosial lalu bertanya kenapa panda yang lucu itu dimasukkan secara serampangan ke keluarga beruang, hingga membuka lamunan soal hakekat seperti kelahiran, pertemuan-perpisahan, hingga kematian.

Mengajukan pertanyaan lalu menerka-nerka apa jawaban dan penjelasan atas pertanyaan atau penjelasan atas jawaban atau penjelasan atas penjelasan itu. Memutar terus seperti simulakra.

Bicara soal hakekat, secara sederhana dua kategori yang biner bisa diajukan: tertentukan (determinan) atau tidak tertentukan (indeterminan). Apakah yang kita alami telah tertentukan atau acak saja seperti melempar dadu dengan prediksi-prediksi dan probabilitas-probabilitas?

Saya tuliskan di sini untuk suatu hari saya kunjungi kembali. Entah itu untuk direvisi atau diteguhkan. Bahwa semua-semua yang telah, sedang, dan akan kita alami bukan tanpa sebab, bukan tanpa tujuan.

Di perjalanan ini, kita melulu menggenapi yang kita anggap tanda tanya. Memenuhi arti keberadaan atau “relevansi”. Terutama soal kita siapa dan ke mana kita akan menuju.

Lagi, mungkin ini pertanyaan yang tak usai-usai. Namun, lebih sebagai alasan untuk menggenapi keberadaan.

msg.