Berjalan-jalan ke Oetimu

Sejak beberapa bulan yang lalu, saya sudah sangat penasaran dan ingin membaca sebuah novel karya Felix Nesi berjudul “Orang-orang Oetimu”. Namun, kendala jarak membuat niat itu urung untuk terwujud.

Dan, akhirnya, saya berhasil!

 

Kesempatan itu tidak saya lewatkan sedikitpun. Novel setebal 220 halaman itu tertuntaskan dalam beberapa hari. Namun, tampaknya itu bukan karena saya sangat “lapar” dan harus menyantapnya secepat mungkin, tetapi lebih karena novel itu adalah novel bagus dan renyah.

 

Untuk bagian ini, saya secara pribadi punya kategori khusus untuk bahan bacaan yang saya anggap bagus. Jika bahan bacaan itu dapat “mengganggu” aktivitas saya dan menarik tangan saya untuk kembali padanya, maka menurut saya itu bagus.

 

Ternyata novel ini tidak hanya bisa “mengganggu” aktivitas saya. Novel ini berhasil membawa saya berkelana ke Oetimu sekalipun saya belum pernah ke sana.

 

Dengan membaca novel ini, saya dapat berjalan-jalan di terik panas matahari siang. Melamun panjang di tengah sabana yang cokelat. Berenang sore hari di laut biru yang dalam. Menengguk sopi kepala di malam yang dingin bukan main.

 

Itu semua adalah bayangan saya terhadap daerah Timur. Oleh karena pernah ke beberapa tempat di Timur, maka saya seketika bisa merasakan kerinduan untuk kembali berkunjung ke sana.

 

Dan, buku ini berhasil membawa saya pada nostalgia itu. Buku ini juga berhasil membawa saya menyusun harapan apa yang akan saya lakukan nanti jika kembali ke sana.

 

Dari sisi alur, buku ini enak sekali untuk dibaca. Ceritanya sangat mengalir dengan pembabakan dan pemilihan kata yang unik. 

 

Felix dengan sangat detil memotret keseharian di Oetimu. Namun, karena tujuan itu, pada beberapa bagian saya merasa “tersesat” dan berusaha mengingat kembali ia sedang membicarakan tokoh yang mana. Sebuah peluang yang kerap muncul jika mengajukan beberapa tokoh dengan beberapa latar cerita sebagai sebuah rangkaian.

 

Buku ini dilengkapi daftar istilah dan singkatan untuk mengantisipasi jarak bahasa bagi pembaca. Saya menjadi tahu ada istilah heet o-nia inan dalam bahasa Tetun atau tolo dalam bahasa Timor. Dan, belajar mengumpat dengan kata-kata itu.

 

Namun, pada beberapa kata, ada istilah yang tidak dimuat pada bagian daftar istilah. Saya lebih yakin ini hal yang disengaja karena ada beberapa kata yang memang tidak bisa dituliskan artinya. Atau, setidaknya, jika dituliskan rasanya tidak bisa penuh menggambarkannya.

 

Buku ini berhasil sekali menggambarkan konflik di Timor dan aspirasi terhadapnya: merdeka, bergabung dengan Portugal, atau bergabung dengan Indonesia. Berhasil juga menggambarkan situasi di Jakarta yang ternyata sangat berhubungan dengan keseharian di Timor.

 

Berhasil juga menggambarkan gereja dan segala kesucian serta kebobrokannya. Berhasil juga menggambarkan masyarakat dalam kesehariannya secara rinci. Itu semua tentu bisa dilakukan dengan adanya pengamatan yang jeli.

 

Alangkah benarnya pendapat Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 bahwa novel ini adalah sebuah contoh fiksi etnografis yang digarap dengan baik.

 

Namun, menurut saya, novel ini lebih daripada itu. Novel ini adalah sebuah contoh novel etnografis yang bisa memotret apa yang sebenarnya terjadi dari peristiwa-peristiwa besar dalam lintasan sejarah dari sudut pandang keseharian di masyarakat. Pembalikan sudut pandang ini unik, baru, dan jenius sekali.

 

Novel ini berhasil menghidupkan imajinasi untuk merasakan secara dekat sekali bahwa kita merupakan bagian dari cerita-cerita di Oetimu.

 

 

 

Timur Jakarta,

 

msg.