Bahagia karena Bahagia

Salah satu penanda gaya hidup post-modern adalah pola hidup well-being dan mindfulness. Keduanya bersifat antinomi, bertentangan tetapi berjalan bersama.

 

Well-being mensyaratkan adanya harapan yang non-eksistensial. Sedangkan mindfulness melakukan konfirmasi terhadap kondisi yang sekarang ada secara eksistensial. Keduanya bertemu dalam suatu upaya mengejar “kebahagiaan”.

 

Lalu, apa sebenarnya makna “kebahagiaan” itu?


Kebahagiaan bisa jadi sesuatu yang ada natural seperti banyak sekali filsuf Yunani kuno sampaikan. Misalnya, Democritus yang terkenal sebagai “laughing philosopher”.

 

Ia juga bisa menjadi bagian dari ilusi serta fantasi dari harmoni dan kesempurnaan seperti yang diutarakan Jacques Lacan. Sehingga manipulasi kebahagiaan menjadi mungkin.

 

Bisa jadi kebahagiaan bersifat fungsional untuk merekayasa “kebahagiaan” kolektif seperti yang disampaikan Derek Bok dalam The Politics of Happiness.

 

Bahkan di media sosial belakangan, tampaknya ada kebahagiaan jenis baru. Bahagia karena menganggap diri lebih bahagia atau beruntung dari orang lain. Kebahagiaan sebagai representasi pencapaian.

 

Dari banyak analisis soal kebahagiaan. Satu yang disepakati bersama: kebahagiaan adalah kebutuhan yang sifatnya esensial.

 

Dalam banyak kesempatan, saya sering berupaya mengobrol dengan pengendara taksi. Dengan model appreciative inquiry, saya suka mengajukan pertanyaan seperti “apa yang paling bahagia atau seru selama menjadi pengendara taksi?”

 

Dari berbagai percobaan, sebagian besar berhasil memancing obrolan yang panjang. Seringkali saya sampai harus berkompromi dengan rasa kantuk yang hebat karena masih subuh sudah jalan jauh ke bandara.

 

Banyak sekali obrolan yang membuat saya tercengang. Bukan karena mereka pengendara taksi lalu menyampaikan hal-hal yang kita asumsikan “tidak mereka ketahui”. Tetapi karena cara pandang mereka sendiri benar-benar memutarbalikkan pikiran.

 

Salah satunya soal kebahagiaan. 

 

Pernah suatu kali saya mendapatkan jawaban: bahagia itu karena bahagia saja.

 

Sekilas tak ada yang istimewa pada pernyataan itu. Namun, jawaban ini menempel terus dalam benak saya.

 

Pernyataan itu jauh dari kesan kepasrahan. Sebaliknya, ia menegaskan keberadaan bahagia yang selalu bersifat pribadi, ada, dan menetap di pribadi paling dalam.


Bahagia karena bahagia itu seperti seorang anak kecil yang mengimajinasikan dunia dari secorong es krim sebagaimana digambarkan César Aira dalam How I Become a Nun.

 

Tentu banyak kejadian sehari-hari yang membuat bahagia tidak tampak. Namun, bahagia tetap ada dan setia hadir ketika disapa.

 

Bahagia karena bahagia saja.

 

Dan, saya kira, begitu halnya dengan ketidakbahagiaan. Bukankah bahagia dan tidak bahagia sama-sama harus terterima dan setara nilainya?

 

 

 

Timur Jakarta,

 

 

msg.