Ada atau Tidak Ada

Beberapa waktu belakangan, kanal informasi saya dibanjiri dua ombak informasi. Pertama, soal korelasi antara pertemuan daring dengan kesehatan mental. Kedua, soal kehidupan pasca pandemi akan berlangsung.

Soal pertama secara empiris sudah terbukti sahih. Bahkan saking terbuktinya, kita sudah jenuh karena jenuh mendapat dan membaca artikel serupa. Ibaratnya, pengaminannya sudah berulang lantas meredam peluang afirmasinya sendiri.

Soal kedua sebenarnya juga sudah banyak dibahas sejak awal pandemi memuncak. Misalnya, setidaknya dua tulisan Yuval Noah Harari. Intinya, ia ingin menyampaikan respons kita hari ini akan menentukan kehidupan di masa depan. Namun, apakah ada yang benar bisa melihat masa depan pasca pandemi?

Karena ketidakpastian itu, muncul istilah “new normal” yang lambat-lambat mengganggu telinga. Seperti halnya kata “milenial”. Tentu saja tidak ketinggalan “era 4.0”.

Tidak ada yang tahu bagaimana kita akan pergi ke kantor, nongkrong di cafe, baca di perpustakaan, menginap di hotel, dan seterusnya. Bisa jadi semuanya normal alias kembali ke keadaan pra-pandemi.

Untuk itu, saya sangat setuju argumentasi Iwan Jaya Aziz (meskipun tentu ia sampaikan untuk substansi yang sangat jauh berbeda). Bahwa tolok ukur “sebelum” atau “sesudah” pandemi tidak tepat. Batas biner yang tepat adalah “ada” atau “tidak ada” pandemi.

Tentu tolok ukur itu jauh berbeda konsekuensinya. Apalagi jika pandemi ini tidak akan pernah berakhir, dengan jenis yang sama maupun berbeda.

Bagi saya, konsekuensinya pada esensialitas. “Ada” atau “tidak ada” pandemi membuat saya pelan-pelan menjadi mulai paham mana yang esensial dan mana yang non-esensial.

Konsekuensi kedua adalah adaptasi. Konsekuensi ini seringkali berujung menjadikan “pengecualian” menjadi sesuatu yang mapan.

Padahal seharusnya sebaliknya. Yang perlu dilakukan adalah menyusun ulang kemapanan yang dasar. Aras pengecualian adalah suatu abnormalitas.

Apapun yang esensial, kesempatan masih terbentang. Untuk mencari dan memantapkan serta beradaptasi dengan itu.

Karena hanya itu yang kita punya, hanya kita yang punya. Baik ada maupun tidak ada pandemi. Dan, bisa jadi, tidak ada waktu yang paling tepat, selain saat ini.

Timur Jakarta,

msg.